“FALLING IN LOVE WITH YOURSELF”

Buku ini saya tuliskan saat akhir nya saya menyadari bahwa selama ini saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya banyak melakukan perjalanan ke dalam diri dan perjalanan ke luar diri. Perjalanan kehidupan untuk lebih mengenal diri sendiri.

Segala kesulitan kehidupan yang saat itu tampak nya seperti kesulitan. Sampai melalui beberapa masa di mana ternyata kesulitan itu hanyalah jalan untuk menuju pada tujuan yang lebih luas. Yaitu guru sejati di dalam diri.

Lamun Sira Durung Wikan Kadangira Pribadi, Coba Dulunen Sira Pribadi” - Bila belum mengenal Saudara SejatiMu didalam diri, ketemu dulu DiriMu yang Sejati (pepatah jawa)

Saya banyak melakukan perjalanan fisik ke beberapa tempat di Indonesia dan di luar Indonesia, yang memberikan saya banyak pelajaran. Setelah beberapa tahun berjalan, tulisan perjalanan saya ternyata adalah kepingan puzzle dari pelajaran untuk mengenal diri sendiri. Yang membuat diri saya ini lebih mencintai diri saya ini.

Buku ini adalah proses yang saya alami untuk mencintai diri sendiri yang kebetulan cocok dengan perjalanan fisik, perjalanan olah pikir, perjalanan olah rasa dan perjalanan olah batin yang saya alami. Buku ini akan menjelaskan hal yang berbeda karena buku ini tidak hanya menuliskan tentang uraian untuk mencintai diri sendiri. Tapi buku ini juga menguraikan tentang paparan singkat tentang ilmu healing dengan sedikit tambahan tasawuf.

Selain di ajak berkelana mengikuti pengalaman perjalanan fisik ke beberapa tempat, Pembaca akan diajak bersama melakukan perjalanan pikir, rasa, jiwa dan batin. Keseimbangan ke empat itu lah yang akan membawa kita lebih mudah mencintai diri sendiri. Saat kita mampu mencintai diri sendiri, kita akan lebih mampu memaksimalkan potensi diri.

Di setiap perjalanan saya, saya sering melakukan tafakur dan menggali diri sendiri. Sehingga akhir nya saya memperoleh pemahaman tentang hidup.

Menjadi sebuh cerita … Yang pada ujung nya mengingatkan pembaca bahwa diri sendiri ini juga berhak untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari diri kita sendiri. Menghargai dan mencintai diri sendiri dengan baik akan membuat kita menjadi manusia yang lebih baik. If you aren’t good at loving yourself, you will have a difficult time loving anyone, since you’ll resent the time and energy you give another person that you aren’t even giving to yourself.”– Barbara De Angelis

Buku ini di tuliskan untuk orang yang ingin mengenal diri nya sendiri dan untuk orang yang bertanya tentang diri nya sendiri. Menyadari kelebihan diri nya dan menyadari bahwa setiap diri kita ini punya keunikan. Dan semua makhluk memang melalui berbagai proses dalam kehidupan nya.

Untuk apa buku ini di tuliskan? Karena saya ingin membagikan kebahagiaan dan kesadaran tentang kehidupan. Saya juga ingin membagikan pengalaman kesadaran untuk kembali pada diri sendiri. Di setiap hal dalam hidup kita, Allah memberi petunjuk. Dan terdapat benang merah dari setiap kejadian yang mengantarkan kita pada Nya. Mengapa buku ini di tuliskan? Masa kecil saya sering di bully dan tidak di anggap ada oleh orang lain. Saya sering mendapatkan kesulitan. Saya pernah sekian lama di kursi roda, dan di remehkan orang. Perjalanan saya memberikan banyak pemahaman. Dan mungkin banyak juga orang seperti saya di luar sana. Dengan menuliskan buku ini, saya ingin memberi semangat pada orang lain.
Karena visi hidup saya adalah menjadi rahmat bagi orang lain.

Prakata

Dalam mengarungi kehidupan sehari-hari, sudah seberapa baikkah kita menghargai diri sendiri? Pertanyaan itu akhir-akhir ini selalu melintas di dalam benakku. Dan aku melihat beberapa teman yang berbagi cerita denganku, selalu berujung dengan pertanyaan, sudah seberapa baikkah menghargai diri sendiri?

Aku kembali melihat diriku dua puluh tahun yang lalu. Saat aku masih belum terlalu paham tentang diriku sendiri. Dan dalam lingkup lebih luas lagi, tentang peta kehidupan. Waktu itu, aku seperti layangan putus yang benangnya melambai tertiup angin. Betapa mudahnya meletakkan kebahagiaan hidupku pada pendapat orang lain. Dan bahkan kadang bisa terbawa arus ikut memberi penilaian terhadap orang lain.

Melupakan bahwa menghargai diri sendiri itu penting. Namun betapa sayangnya Allah SWT pada diri ini. Dia mengirimkan banyak petunjuk hidup yang bisa kumengerti. Sampai akhirnya aku hanya disibukkan dengan mengamati diri sendiri. Aku mengenali jalur aku dalam peta besar kehidupan ini. Ada masa saat aku mengalami hal yang kurang menyenangkan. Tentu ada pula yang menyenangkan. Aku punya Allah SWT. Ah, siapalah aku tanpa Allah SWT?

Allah SWT menuntunku menyibukkan diri dalam melakukan pengamatan pada diriku sendiri. Dengan tidak melupakan bahwa Allah SWT ada dalam tiap hembusan napasku. Bagiku, ujung dari segala upaya adalah tawakal. Aku tidak akan bisa sampai pada pemahaman tentang peta kehidupanku, bila masih mengikatkan diri pada pemahaman hidup. Karena untuk sampai, artinya aku harus melepaskan, agar tidak terikat pada segala sesuatu yang merintangi perjalananku. Dan hanya pada Allah SWT-lah aku bisa berharap. "Allah tidak pernah berbuat zalim pada siapa pun." (Qur'an. Al Kahfi: 49).
"You will recognize your own path when you come upon it because you will suddenly have all the energy and imagination you will ever need." -Jerry Gillies-

Ingat cerita tentang Helen Keller! Dia adalah perempuan yang dilahirkan buta dan tuli, tak bisa membaca, melihat bahkan mendengar, tapi Helen Keller masih mempunyai semangat yang luar biasa. Bahkan ia memberi motivasi orang lain dengan kondisinya yang khusus. Helen Keller adalah contoh pribadi yang menghargai dirinya sendiri. Bahkan mungkin ia lebih menghargai dirinya dibanding orang normal pada umumnya. Terkadang kita hidup dalam kehidupan orang lain dan tidak tahu bagaimana cara menghargai diri sendiri. Padahal dengan memahami cara menghargai diri sendiri, secara tidak langsung kita bisa berbagi kepada orang lain tentang bagaimana menghargai diri kita sendiri.

Kita semua adalah makhluk individu. Setiap diri kita adalah makhluk yang bernilai, kuat dan berharga. Kita perlu mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita bernilai dan menghargai apa yang bisa kita peroleh. Karena kita adalah pencipta atas hidup kita sendiri. Semakin kita menghargai diri sendiri, semakin kita mencintai Allah SWT, pencipta kita dan alam semesta ini.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (Qur'an. At Tin: 4).
Bagaimana cara menghargai diri sendiri? Secara garis besar kita dapat melakukannya dengan cara memahami diri kita ke dalam dan memahami diri kita dengan apa yang ada di luar diri kita. Aku tulis buku ini berdasarkan kumpulan pengalaman pribadi, sebagai sebuah proses untuk lebih menghargai dan lebih mencintai diri sendiri, selama beberapa tahun. Awal nya ini adalah catatan pribadi ku. Saat buku ini selesai dituliskan, aku menunduk ke dalam diri sendiri. Tidak ada kata lain selain syukur. Buku ini juga hasil kerelaan aku belajar dari kehidupan, pembelajaran dari tasawuf dan healing. Kehidupan telah mengantarkan aku menemukan guru kehidupan.

Dalam ilmu healing dipelajari tentang macam-macam tubuh yang dimiliki manusia. Juga tentang cakra. Manusia mempunyai empat jenis tubuh, yaitu tubuh fisik, tubuh energi, tubuh emosi dan tubuh mental. Kemampuan kita untuk menghargai dan mencintai diri sendiri akan memengaruhi keseimbangan tubuh kita, dan secara spesifiknya akan memengaruhi cakra kita. Aku hanya menuliskan kemungkinan area tubuh dan cakra yang terpengaruh, sebagai tambahan wawasan. Penjelasan tidak akan mendalam, hanya sekedar wawasan ringan. Hasil akan bervariasi sesuai dengan masing-masing individu.

Kenapa aku menuliskan buku ini?

Tidak ada hal yang baru di dunia ini. Semua sudah ada. Tulisan aku pun bukan tulisan yang baru. Segala sesuatu ini punya mata rantai kesinambungan-Nya. Tulisan ini merupakan bentuk pertalian antara perjalanan diri dengan perjalanan fisik sebagai sebuah proses untuk menghargai dan mencintai diri sendiri, melalui pendekatan ilmu tasawuf dan healing.

Buku ini akan terbagi atas tiga bagian dalam tiap babnya. Bagian pertama penjelasan tentang judul bab. Tiap judul saya anggap sebagai bab, ditandai dengan judul besar dan dibawahnya akan diberi penjelasan. Di akhir bagian penjelasan judul bab, akan memberikan informasi tentang kemungkinan area cakra dan tubuh mana dari ilmu healing yang berpengaruh. Sesuai keilmuan teori healing yang ku pelajari.

Bagian kedua akan memuat renungan atas pengalaman pribadiku terkait dengan judul bab. Bagian kedua ini akan mempunyai judul sub bab yang aku alami saat itu. Bagian kedua akan diakhiri dengan renungan yang aku pelajari dari ilmu tasawuf.

Bagian ketiga akan diberikan bagian kosong sebagai tempat pembaca untuk mencatat, sebagai jurnal pribadi. Kenapa bagian ini ada? Siapa tahu teman-teman yang membaca juga mempunyai catatan perjalanan nya sesuai dengan judul bab. Bagian ini akan dibagi menjadi dua bagian, yaitu catatan perjalanan lahir dan catatan perjalanan batin pembaca. Dan masing-masing akan dibagi menjadi dua bagian. Adapun pembagian catatan perjalanan lahir adalah olah pikir dan olah raga. Dan catatan perjalanan batin adalah olah rasa dan olah jiwa. Olah pikir adalah apa pun yang dipikirkan. Olah raga adalah pergerakan tubuh fisik kita. Olah rasa adalah perubahan dan apa pun yang bisa dirasakan di hati. Sedangkan olah jiwa adalah kedalaman olah rasa dengan hasil ketenangan batin.

Akhir kata, selamat menikmati buku ini. Dan berselancar bersama dalam kehidupan dengan lebih menghargai diri sendiri agar mampu mencintai diri ini sebaik mungkin.
Segala kebaikan adalah milik Allah SWT.
Karena aku juga adalah milik-Nya.

Testimoni
Apa kata mereka...

Profil Penulis
Tristiningsih Dian Ekoputri

Penulis adalah lulusan S1 jurusan akuntansi dari Universitas Surabaya dan lulusan S2 Magister Manajemen dari Universitas Surabaya. Sejak lebih memahami diri nya, penulis menjadi suka melakukan banyak kegiatan untuk merayakan kehidupan, diantara nya adalah bermain hula hoop dan memanah. Salah satu kelebihan nya yang lain adalah karena kedekatan nya dengan alam, penulis mudah mendapat ide tulisan saat sedang melakukan perjalanan. Melakukan perjalanan dulu adalah hal yang hampir tidak mungkin dilakukan oleh nya. Tidak selalu perjalanan yang mudah yang pernah di lalui. Beberapa diantara perjalanan nya termasuk perjalanan dengan akses tempat minim fasilitas. Sehingga tidak selalu bisa menulis di saat yang sama.

Dia suka sekali dengan es Jeruk, es markisa, aneka sayuran segar, tempe, mie kuah dan makanan Italia. Karena dia adalah vegetarian, makanan yang selalu ada dalam ransel nya adalah sambel goreng kentang, kacang-kacangan, kurma dan telur asin tidak pernah ketinggalan dalam ransel nya. Hal unik dalam penampilan diri nya adalah batu kristal yang ada di dahi nya, sejak 2012. Dia terinspirasi dari healer di masa dahulu. Sekali pun saat traveling orang bisa sering salah mengira dari India. Sesekali menggunakan aksesoris dari bulu-bulu. Tapi itu malah menjadikannya tampil beda

Kesukaan akan ilmu dan kristal membuat nya punya koleksi buku dan aksesoris nya yang cukup banyak.

Pernah bekerja di kantor akuntan publik dan saat ini masih bekerja sebagai corporate accountant di perusahaan modal asing milik Belanda.

Aktivitas lainnya adalah sebagai healer, menulis, coaching dan traveling. Saat ini penulis sedang aktif mengembangkan ilmu healing nya sendiri, yaitu sebagai geo-balance healing. Dia juga mempelajari banyak aliran ilmu healing, selain ilmu pranic healing yang di pelajari sampai ke luar negeri. Di samping menjadi geo-balance healer dan pranic healer, dia juga senang mengembangkan diri. Selain itu, penulis senang mengembangkan diri dengan kelas pemberdayaan diri untuk mengenali dan memetakan diri sendiri. Dengan mengenali diri sendiri, menurut penulis akan lebih mengenali Allah SWT. Selain itu dengan mengenali diri, maka perjalanan kehidupan akan lebih menarik, karena dalam diri ini ada petunjuk yang ditatahkan oleh Allah SWT untuk setiap perjalanan kehidupan.

Menulis adalah sarana penulis untuk kontemplasi dan belajar. Penulis senang berkarya dengan tulisan, karena baginya tulisan adalah media untuk self-healing. Tulisan juga bisa dipakai sebagai salah satu khasanah pengetahuan untuk orang lain. Sebagaimana visi hidupnya untuk menjadi menjadi versi terbaik dari dirinya, sehingga bila suatu saat berpulang nanti, hanya bahagia yang akan dia rasakan. Menyenangkan Allah yang sudah menciptakan nya dengan sebaik-baik bentuk. Serta mewujudkan keinginan Allah yang ada dalam diri nya dengan cara yang terbaik.